Coral Spawning

Ekosistem Terumbu karang

     Ekosistem terumbu karang adalah ekosistem yang paling kompleks dan beragam di antara berbagai ekosistem dunia. Ekosistem terumbu karang juga merupakan salah satu ekosistem di kawasan pesisir yang memiliki peranan penting sebagai tempat yang kaya akan plasma muftah, bahkan dilaporkan dihuni oleh lebih dari satu juta spesies. Di samping itu, ekosistem terumbu dikenal sebagai ekosistem yang sangat indah tak tertandingi (Ginting, 2023).

Gambar 1. Ekosistem terumbu karang 

Pengertian Karang

    Karang adalah binatang sederhana yang berukuran hanya beberapa mili hingga beberapa sentimeter dan umumnya dijumpai dalam bentuk koloni. Karang mempunyai mulut yang berada di atas yang berfungsi sebagai anus, dimana di sekitar mulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap makanan. Disana ada kerangka kapur untuk tegaknya seluruh jaringan sebagai penyangga polip (Gabriel dan Santosa, 2021).


Polip tersusun atas 3 lapis jaringan:

1. Ektoderma > Jaringan terluar

2. Mesoglea > Jaringan tengah

3. Endoderma > Jaringan dalam

Gambar 2: Struktur binatang karang karang dengan 3 lapisan jaringan: ektoderma, mesoglea dan endoderma.

Apa itu Coral Spawning?

   Pernahkah kamu mendengar tentang coral spawning? Ini adalah proses reproduksi massal pada koloni koral yang terjadi sekali atau dua kali dalam setahun. Bayangkan jutaan telur dan sperma koral yang dilepaskan ke dalam air laut secara bersamaan (Hughes, 2010).

Bagaimana Prosesnya?

   Coral spawning biasanya dipicu oleh fase bulan purnama. Ketika bulan purnama, koloni koral akan melepaskan telur dan sperma ke dalam air laut. Proses ini sangat penting karena memungkinkan koral untuk bereproduksi dan membentuk koloni baru.

Manfaat Coral Spawning:

- Meningkatkan peluang terjadinya fertilisasi

- Menghasilkan larva koral yang dapat tumbuh menjadi koloni koral baru

- Berkontribusi pada keanekaragaman hayati laut

- Penting untuk pemulihan dan regenerasi terumbu karang


Gambar 3: Coral Spawning



Daftar Pustaka

Gabriel, N., dan Santosa, J. J. P. 2021. Pendekatan Arsitektur Kosmologi Bali Dan Pragmatic Utopia Dalam Merancang Konservasi Terumbu Karang Di Pulau Nusa Penida. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa). 3(2): 3145-3156.

Ginting, J. 2023. Analisis kerusakan terumbu karang dan upaya pengelolaannya. Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan (JKPT). 1: 53-59.

Guest, J. R. 2017. Coral reproduction in the Anthropocene: A review of the impacts of climate change and other human activities. Marine Pollution Bulletin. 116(1-2): 47-57.

Hughes, R. N. 2010. Predicting coral spawning based on lunar periodicity and water temperature. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology. 391(1-2): 1-9.

Ramadhan, A., Lindawati, L., dan Kurniasari, N. 2017. Nilai ekonomi ekosistem terumbu karang di Kabupaten Wakatobi. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. 11(2): 133-146.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan antara Iklim Tropis, Subtropis, Sedang dan Dingin

Mengenal Lebih Jauh Tentang CTI (Coral Triangle Initiative)

Pengetahuan singkat seputar Polip dan Kalsifikasi